Penyebab Utama Ejakulasi Dini Pada Pria

Apa itu Ejakulasi ?

ejakulasi-dini
ejakulasi-dini

Ejakulasi adalah keluarnya sperma dibawah dua menit.  Ejakulasi merupakan masalah yang sangat serius pada pria, dan ternyata 90 persen masalah tersebut dipengaruhi oleh psikologis pria. Apa saja faktor nya ?

Menurut Seksolog, Zoya Amirin,pria yang ejakulasi dini karena terlalu senang ketika berhubungan seks atau ia belum pernah berhubungan seks sebelumnya. Umumnya, ia tidak dapat mengatur antara emosi dan ‘pengeluarannya’.

“Hubungan seks pertama, berhubungan dengan orang yang emosinya sangat kuat, sudah mau meledak gitu ya, terjadilah ejakulasi dini,” jelas Zoya saat diwawancara wolipop di fX lifestyle X’nter, Senayan, Jakarta Selatan belum lama ini.

Baca juga :

Cara mengatasi ejakulasi dini dengan tuntas

Siapa saja yang dapat mengalami ejakulasi dini

Ejakulasi Dini juga di alami oleh pria dibawah 20 tahun, ia mengatakan jika pria dibawah 20 tahun, masih memiliki perasaan yang ‘meluap’ hingga ia tidak bisa untuk mengontrol ejakulasi nya. 20 sampai 30 persen pria muda mengalaminya, demikian diungkapkan oleh para peneliti.

“Yang paling sering di bawah 20 tahun ya, tapi kalau di atas 20 tahun dan bukan hubungan seks pertama, harus dicek ya, kenapa dia ejakulasi dini,” papar seksolog yang mengambil gelar psikologinya di Universitas Indonesia itu.

Apa yang menyebabkan ejakulasi dini ?

Beban pikiran yang menumpuk juga bisa diakibatkan oleh stress, Menurut ahli seks dari Amerika, Ian Kerner, pria yang stres mudah mengalami gangguan bercinta seperti ejakulasi dini.

“Situasi stres membuat mereka ejakulasi lebih cepat,” ujar Kerner, dilansir dari WebMD. Beban pikiran tersebut membuat pria mudah ejakulasi. Zoya menambahkan, pria yang ejakulasi dini karena terlalu banyak pikiran harus diterapi dulu agar tidak semakin stres karena berkali-kali gagal bercinta dengan pasangannya.

Ternyata tidak hanya psikologis, 10 persen faktor penyebab ejakulasi dini bisa disebabkan karena medis. “Ada faktor medisnya namanya impulse control, ada obat-obatan yang harus mereka minum. Ada medisnya tapi itu cuma 10 persen, 90 persen psikologis makanya harus terapi,” tutup wanita kelahiran 7 September 1975 itu.